Jul 08 2008 07:26 am

Posted by admin under Design, Houses

Salah Kaprah ‘Rumah Minimalis’

Museum TV Radio

Pernah denger kan jenis ‘rumah minimalis’? Kayaknya lagi ngetrend sekarang.. apalagi bagi pelaku property. Kalau kita jual atau beli rumah dengan brand ‘rumah minimalis’, kita akan dihadapkan dengan rumah wah dengan harga wah..

Tahukah anda bahwa rumah-rumah yang dinamakan ‘Rumah Minimalis’ sekarang ini sebagian besar BUKAN rumah minimalis?

Modern itu bukan minimalis

Saya sering, bahkan hampir selalu, mendapat permintaan dari klien-klien untuk mendisain rumah atau bangunan minimalis. Dan ketika saya meminta para kilien untuk merefrensikan bangunan-bangunan yang mereka kategorikan ‘rumah minimalis’, ternyata yg mereka referensikan BUKAN ‘rumah minimalis’ yang sebenarnya. Yang mereka tunjuk adalah bangunan modern yang dipadu unsur tropis, atau bangunan tropis yg dipadu unsur modern. Atau bahkan bangunan mediteran. Intinya, mereka merujuk paduan bangunan modern sebagai bangunan minimalis. Dan bangunan modern itu BUKAN bangunan minimalis.

Minimalis itu minimal

Apa sebenarnya minimalis? Gerakan ini dipacu oleh krisis ekonomi dunia. Timbul penyederhanaan pada bentuk2 bangunan yg ada. Baik dari bentuk, detail, warna, dan penggunaan material. Intinya, penghematan biaya. Sebenarnya gerakan ini sdh pernah ada di Jerman pada tahun 30-an, dinamakan gerakan Bauhaus, yg dipelopori oleh Mies v. d. Rohe dan Walter Gropius. Bentuk bangunannya sangat geometris, bentuk kotak, sederhana, dan berwarna putih. Inilah ciri bangunan minimalis yang sebenarnya. Tidak ada bentuk aneh. Tidak ada permainan warna. Tidak ada detail. Tidak ada batu alam atau tembok bergaris. Beratap datar. Dan tidak mahal.

Di Indonesia, sebagai daerah tropis dengan curah hujan yang tinggi, penggunaan atap datar tidaklah cocok. Hampir tidak ada atau sedikit sekali bangunan minimalis murni disini. Karena selain pengaruh iklim tadi, sebenarnya bangunan minimalis itu bersifat ‘dingin’, tidak ramah.

Modern Tropis

Dikarenakan faktor-faktor tadi, timbullah perpaduan dengan unsur tropis, mulai dari pemakaian atap miring, pelana dan perisai. Sampai tahap ini unsur minimalis masih terasa kuat. Selanjutnya masuk juga penggunaan unsur batu alam sebagai pemanis, yang mana pada perkembangannya penggunaan batu alam ini dapat disubtitusi dengan penggunaan finishing dinding bergaris. Unsur pemanis ditambahkan juga dengan permainan warna pada bangunan. Penambahan detail-detail pada bangunan. Sampai tahap ini, sudah tidak bisa dikatakan bangunan minimalis lagi. Dan terakhir perubahan harga jual yang lebih mahal dari rumah model lainnya, yang sama sekali bukan ciri dari bangunan minimalis.

Albera 133

Jadi, bangunan minimalis adalah bangunan, yang secara harafiah, benar-benar minimalis atau sederhana, baik dari bentuk, warna (selalu putih), fungsi, dan juga harga. Dan bangunan minimalis itu ‘dingin’, dan tidak selalu sedap untuk dipandang.

Bila anda merujuk pada bangunan dengan komposisi bentuk yang apik, permainan warna pastel yang segar, detail yang cantik, permainan atap miring sebagai ‘mahkota’ yang indah, serta sentuhan batu alam, dan sedap di pandang mata, maka anda merujuk pada bangunan ‘modern tropis’, BUKAN minimalis. Dan harga bangunan ini tidaklah murah.

2 Responses to “Salah Kaprah ‘Rumah Minimalis’”

  1. vivi on 28 Sep 2008 at 11:59 pm #

    artikel anda menarik juga, jadi saya punya pertimbangan atas hasil rumah minimalis, saya akan tunggu artikel anda berikutnya.

    salam sukses

  2. Eko Prasetyo on 25 Oct 2008 at 4:43 pm #

    Saya setuju dengan judul serta artikel anda. Memang akhir - akhir ini konsep ” Rumah Minimalis ” dalam pembuatannya sangat mahal dalam biaya pembuatan dan perawatannya karena terlalu banyak acessories pernak - pernik rumah yang menempel dinding rumah, sehingga lebih baik dikatakan jangan konsep rumah minimalis melainkan ” Rumah Tropis “.

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply