Jul 06 2008 06:03 am
Posted by admin under Design, Houses
Rumah Anti Banjir
Banjir. Inilah bencana alam yang paling menjadi momok bagi penduduk Indonesia, terutama Jakarta. Banjir besar Jakarta yg mempunyai siklus 5 tahunan, kemungkinan besar akan menjadi lebih kecil siklusnya menjadi tahunan. Sampai sekarang pemerintah nampaknya belum berhasil mengatasi masalah ini. Dan selama pemerintah belum bisa mengatasinya, banjir akan datang terus menyerang warga. Kabar buruknya lagi, tidak ada rumah anti banjir.
Walaupun belum ada rumah yang ‘anti banjir’, bukan berarti tidak ada solusi untuk mengatasi masalah ini. Solusi disini adalah bagaimana caranya tetap tinggal dan hidup ‘nyaman’ di rumah, mengurangi kerusakan pada barang-barang, walaupun banjir datang.
Bagi yang sudah memiliki rumah didaerah banjir, mungkin cara yang bisa dipakai adalah meninggikan ketinggian lantai rumah dan halaman besar. Inipun dg ketinggian yang sangat terbatas, karena dibatasi dengan ketinggian plafon rumah dari lantai. Misalnya ketinggian lantai ke plafon sekarang adalah 3 m, maka maksimal kenaikan tinggi lantai adalah 50 cm, sehingga ketinggian lantai ke plafon yg baru menjadi 2,5 m. Bila ketinggian lantai-plafon skrg hanya 2,5 m, penambahan ketinggian maksimal yang bisa dilakukan hanya sekitar 30 cm. Kalau menginginkan ketinggian yg lebih dari itu, misalnya 1-1,5 m, sebaiknya anda merenovasi total rumah anda atau membuat / membeli rumah baru di lokasi lain.
Bila anda ingin merenovasi total, atau membuat rumah baru di lahan yg terdapat di kawasan banjir, ada beberapa tips yang bisa diperhatikan.
1. Informasi ketinggian air banjir maksimal yang pernah terjadi di wilayah itu. Inilah hal pertama yang penting dilakukan. Bertanyalah pada warga di lingkungan itu seberapa tinggi banjir yang pernah terjadi. Ini akan menjadi dasar penentuan ketinggian rumah induk.
2. Letak ketinggian halaman dan carport harus berada di atas jalan. Uruglah tanah anda. Buatlah minimal 50 cm diatas jalan. Bila anda memiliki halaman atau lahan parkir yang luas, anda bisa meninggikannya hingga 1 meter atau lebih. Sehingga bila terjadi banjir ‘kecil’, lahan anda masih terhindar dari air dan barang2 berharga seperti kendaraan bisa terlindungi.
3. Merencanakan Posisi Rumah Induk. Yang dimaksud dengan rumah induk disini adalah bagian-bagian dari rumah, kecuali bagian servis. Disinilah ketinggian air banjir maksimal yg pernah terjadi (point 1) diperlukan. Buatlah posisi rumah induk beberapa jarak di atas posisi banjir tertinggi, kalau bisa antara 50 cm sampai 1 meter. Misalnya, banjir tertinggi yang pernah terjadi di wilayah itu 1 meter dari jalan, berarti posisi rumah induk harus berada paling tidak 1,5 meter dari jalan. Ini untuk mengantisipasi datangnya banjir yang lebih besar dari yang pernah ada. Ada beberapa cara untuk mewujudkannya:
a. Membuat Rumah Panggung. Dengan mengangkat ketinggian lantai dan membiarkan ruang dibawahnya kosong, seperti rumah-rumah tradisional Indonesia.
b. Mengurug tanah. Mengisi kekosongan ruang dengan tanah urug dengan ketinggian minimal 50 cm dari batas banjir maksimal (misalnya batas banjir 1 m, maka urugan tanah 1,5 m. bila taman yang ada juga ikut diurug, bisa menjadi landscape yang indah dan menjadi satu kesatuan dgn rumah. Urugan bisa dilakukan dengan menggunakan tanah atau puing-puing. Dan setelah diurug tanahnya harus dipadatkan (stamper). Pondasi dibuat sebelum tanah diurug. Setelah dipondasi, dibuat balok pengikat, lalu diurug. Setelah tanah urugan di padatkan, dibuat balok pengikat diatasnya agar bangunan lebih kaku.
c. Meletakkan Rumah induk di lantai atas. Bila ketinggian banjir maksimal 2 m, dan ketinggian lahan untuk halaman menjadi 50cm, maka ketinggian rumah induk minimal menjadi 2,5 m dan selisihnya dengan lahan halaman menjadi 2 m. Selisih Ruang sebesar 2 meter dapat dimanfaatkan menjadi ruang lain, seperti gudang, garasi mobil, ruang pembantu, yang memang tidak bisa digunakan kala banjir besar tiba. Rumah induk menjadi lantai atas, dan untuk mencapainya ada tangga dari halaman depan menuju entrance yang ada di lantai atas.
4. Instalasi Mekanikal dan Elektrikal diletakkan diatas ketinggian banjir. Pipa pembuangan air keluar diletakkan di tempat yang tinggi. Posisi bagian atas septic tank minimal setinggi lahan halaman (50 cm dr jalan), lebih baik bila berada diatas batas banjir (setara tanah urugan), dan bisa di manipulasi sebagai taman. Persiapkan tempat penampungan air yang besar, untuk antisipasi kekurangan air ketika banjir. Penempatan instalasi listrik juga minimal 1 m dari lantai rumah induk. Bila perlu sediakanlah genset untuk cadangan listrik, dan ditempatkan di tempat yg tinggi.
Memiliki rumah yang lebih tinggi dari jalan, selain untuk menghindari masuknya air banjir, bisa terlihat menjadi lebih ‘wah’ karena ketinggiannya itu. Dan bila dipadukan dengan disain arsitektur yg apik, akan menjadi rumah yang menarik.