Archive for July, 2008

Jul 08 2008

Posted by admin under Design,Houses

Salah Kaprah ‘Rumah Minimalis’

Museum TV Radio

Pernah denger kan jenis ‘rumah minimalis’? Kayaknya lagi ngetrend sekarang.. apalagi bagi pelaku property. Kalau kita jual atau beli rumah dengan brand ‘rumah minimalis’, kita akan dihadapkan dengan rumah wah dengan harga wah..

Tahukah anda bahwa rumah-rumah yang dinamakan ‘Rumah Minimalis’ sekarang ini sebagian besar BUKAN rumah minimalis?

Modern itu bukan minimalis

Saya sering, bahkan hampir selalu, mendapat permintaan dari klien-klien untuk mendisain rumah atau bangunan minimalis. Dan ketika saya meminta para kilien untuk merefrensikan bangunan-bangunan yang mereka kategorikan ‘rumah minimalis’, ternyata yg mereka referensikan BUKAN ‘rumah minimalis’ yang sebenarnya. Yang mereka tunjuk adalah bangunan modern yang dipadu unsur tropis, atau bangunan tropis yg dipadu unsur modern. Atau bahkan bangunan mediteran. Intinya, mereka merujuk paduan bangunan modern sebagai bangunan minimalis. Dan bangunan modern itu BUKAN bangunan minimalis.

Minimalis itu minimal

Apa sebenarnya minimalis? Gerakan ini dipacu oleh krisis ekonomi dunia. Timbul penyederhanaan pada bentuk2 bangunan yg ada. Baik dari bentuk, detail, warna, dan penggunaan material. Intinya, penghematan biaya. Sebenarnya gerakan ini sdh pernah ada di Jerman pada tahun 30-an, dinamakan gerakan Bauhaus, yg dipelopori oleh Mies v. d. Rohe dan Walter Gropius. Bentuk bangunannya sangat geometris, bentuk kotak, sederhana, dan berwarna putih. Inilah ciri bangunan minimalis yang sebenarnya. Tidak ada bentuk aneh. Tidak ada permainan warna. Tidak ada detail. Tidak ada batu alam atau tembok bergaris. Beratap datar. Dan tidak mahal.

Di Indonesia, sebagai daerah tropis dengan curah hujan yang tinggi, penggunaan atap datar tidaklah cocok. Hampir tidak ada atau sedikit sekali bangunan minimalis murni disini. Karena selain pengaruh iklim tadi, sebenarnya bangunan minimalis itu bersifat ‘dingin’, tidak ramah.

Modern Tropis

Dikarenakan faktor-faktor tadi, timbullah perpaduan dengan unsur tropis, mulai dari pemakaian atap miring, pelana dan perisai. Sampai tahap ini unsur minimalis masih terasa kuat. Selanjutnya masuk juga penggunaan unsur batu alam sebagai pemanis, yang mana pada perkembangannya penggunaan batu alam ini dapat disubtitusi dengan penggunaan finishing dinding bergaris. Unsur pemanis ditambahkan juga dengan permainan warna pada bangunan. Penambahan detail-detail pada bangunan. Sampai tahap ini, sudah tidak bisa dikatakan bangunan minimalis lagi. Dan terakhir perubahan harga jual yang lebih mahal dari rumah model lainnya, yang sama sekali bukan ciri dari bangunan minimalis.

Albera 133

Jadi, bangunan minimalis adalah bangunan, yang secara harafiah, benar-benar minimalis atau sederhana, baik dari bentuk, warna (selalu putih), fungsi, dan juga harga. Dan bangunan minimalis itu ‘dingin’, dan tidak selalu sedap untuk dipandang.

Bila anda merujuk pada bangunan dengan komposisi bentuk yang apik, permainan warna pastel yang segar, detail yang cantik, permainan atap miring sebagai ‘mahkota’ yang indah, serta sentuhan batu alam, dan sedap di pandang mata, maka anda merujuk pada bangunan ‘modern tropis’, BUKAN minimalis. Dan harga bangunan ini tidaklah murah.

5 Comments »

Jul 06 2008

Posted by admin under Urban

Halte Busway Itchu Membunuhkyu…

‘ Hancyurkan Akyu dengan Haltemyu…..
Tak Sadarkah Kau telah memanggang akyu….’

Halo.. Anda pengguna busway? Atau pernah naek busway? Kalau belum pernah, coba deh…

Sejak adanya bussway, thx to bang yos, perjalanan pengguna kendaraan umum sedikit lebih cepat, sedikit lebih nyaman, dan sedikit lebih dingin…. Tp itu hanya terjadi KETIKA kita DI DALAM Bussway Transjakarta..

Bagaimana dengan haltenya???? Hmmmm…. Bentuknya sih rancak… millennyium…. Silver n glasses… but it’s FREAKIN HOT!!!! I mean REALLY HOT dalam arti yang sebenarnya…

Salah Ventilasi

Pernah gak anda terjebak di antrean? Terutama di koridor transit? Hebat ya… walaupun bentuknya millennium, tapi system ventilasinya kulonuwon… Dengan bentuknya yang tertutup hampir rapat, tidak ada AC atau kipas angin exhaust van.. Udara dapat masuk hanya dengan mengandalkan kisi2 kecil berbentuk krepyak. Memang sih udara masuk, tapi angin tidak… sedangkan angin adalah udara yang bergerak.. jadi, bagaimana mau ada udara bergerak dalam halte, walaupun udara masuk. Apalagi bila antrean padat.

Kesalahan terbesar adalah system ventilasi. Kisi2 angin yg sebenarnya banyak itu tidak berfungsi dengan optimal karena bentuknya yang menyudut. Bentuk itu memang dimaksudkan untuk menangkal hujan atau benda besar lain untuk masuk, dan hanya membiarkan udara masuk kedalam. Tapi efek lainnya adalah angin jadi amat susah untuk masuk. Pada halte koridor yang kecil mungkin ini tidak menjadi masalah besar karena jarak antara pintu masuk halte dengan tempat tunggu nya relative pendek. Tapi bagaimana dengan halte transit yang panjang? Sampai saat ini belum ada laporan orang pingsan karena kehabisan udara dalam halte. Tapi kayaknya gak lama lagi akan ada deh…..

Ada beberapa solusi yang bisa diterapkan:

1. Ubah bentuk ventilasi yang sudah ada. Buatlah kisi yg ‘terbuka’, tidak menghalangi angin untuk masuk, bukan dengan system ‘krepyak’.
2. Perbanyak ruang ventilasi. Buatlah jendela, seperti nako. Memang riskan menjadi aksi vandalism campang (calon penumpang) busway yang ngamuk bila buswaynya ga dateng2. Tapi jendela bisa diletakkan di atas sehingga tidak terjangkau orang.
3. Berilah exhaust van (yang bener sih AC kl bisa…), minimal di satu sisi dinding, di dua titik. Atau di plafond. Harus ada angin yg mengalir. Kendalanya adalah masalah listrik. Tapi mungkin bisa diatasi pada solusi selanjutnya….
4. Pakailah solar cell pada tiap koridor bussway, untuk tenaga listrik mandiri. Investnya memang ga murah, tp bisa menjadi solusi listrik yang sering mati di bussway..
5. Tingkatkan frekwensi kedatangan busway, sehingga tidak perlu mengakibatkan antrean panjang. Sediakanlah bis-bis cadangan yg dapat digunakan pada waktu-waktu overload campang.

Terakhir, untuk Bang Foke, ente kan arsitek, mungkin punya solusi yang lenuh baik?

Terakhir 2, Cinca Laura, artis favoritkyu, mau coba nyayi nih :

Cinca Laura – Halte Ini Membunuhku (adopted from d’Masiv- Cinta Ini Membunuhku)
Intro: C Am F

C
kau membuat kyuberantchakan
Am
kau membuat kyu tak karuan
Dm
kau membuat kyu tak berdaya
G
kau memanggangkyu merebus dirikyu

C
bagaimana caranya untchuk
Am
meruntchuhkan kerasnya hatimyu
Dm
kyusadari kau tak sempyurna
G
kau tak sepertchi yang kyu inginkan

Reff:
C CMaj7
kau hancyurkan akyu dengan haltemyu
Em A Dm
tak sadarkah kau telah memanggang akyu
Em F Em Am
lelah hati ini meyakinkanmyu
Dm G
halte ini membunuhkyu

(interlude)
F G E/G# Am Em Dm Em F G

(ending)

No Comments »

Jul 06 2008

Posted by admin under Design,Houses

Rumah Anti Banjir

Banjir. Inilah bencana alam yang paling menjadi momok bagi penduduk Indonesia, terutama Jakarta. Banjir besar Jakarta yg mempunyai siklus 5 tahunan, kemungkinan besar akan menjadi lebih kecil siklusnya menjadi tahunan. Sampai sekarang pemerintah nampaknya belum berhasil mengatasi masalah ini. Dan selama pemerintah belum bisa mengatasinya, banjir akan datang terus menyerang warga. Kabar buruknya lagi, tidak ada rumah anti banjir.

Walaupun belum ada rumah yang ‘anti banjir’, bukan berarti tidak ada solusi untuk mengatasi masalah ini. Solusi disini adalah bagaimana caranya tetap tinggal dan hidup ‘nyaman’ di rumah, mengurangi kerusakan pada barang-barang, walaupun banjir datang.

Bagi yang sudah memiliki rumah didaerah banjir, mungkin cara yang bisa dipakai adalah meninggikan ketinggian lantai rumah dan halaman besar. Inipun dg ketinggian yang sangat terbatas, karena dibatasi dengan ketinggian plafon rumah dari lantai. Misalnya ketinggian lantai ke plafon sekarang adalah 3 m, maka maksimal kenaikan tinggi lantai adalah 50 cm, sehingga ketinggian lantai ke plafon yg baru menjadi 2,5 m. Bila ketinggian lantai-plafon skrg hanya 2,5 m, penambahan ketinggian maksimal yang bisa dilakukan hanya sekitar 30 cm. Kalau menginginkan ketinggian yg lebih dari itu, misalnya 1-1,5 m, sebaiknya anda merenovasi total rumah anda atau membuat / membeli rumah baru di lokasi lain.

Bila anda ingin merenovasi total, atau membuat rumah baru di lahan yg terdapat di kawasan banjir, ada beberapa tips yang bisa diperhatikan.

1. Informasi ketinggian air banjir maksimal yang pernah terjadi di wilayah itu. Inilah hal pertama yang penting dilakukan. Bertanyalah pada warga di lingkungan itu seberapa tinggi banjir yang pernah terjadi. Ini akan menjadi dasar penentuan ketinggian rumah induk.

2. Letak ketinggian halaman dan carport harus berada di atas jalan. Uruglah tanah  anda. Buatlah minimal 50 cm diatas jalan. Bila anda memiliki halaman atau lahan parkir yang luas, anda bisa meninggikannya hingga 1 meter atau lebih. Sehingga bila terjadi banjir ‘kecil’, lahan anda masih terhindar dari air dan barang2 berharga seperti kendaraan bisa terlindungi.

3. Merencanakan Posisi Rumah Induk. Yang dimaksud dengan rumah induk disini adalah bagian-bagian dari rumah, kecuali bagian servis. Disinilah ketinggian air banjir maksimal yg pernah terjadi (point 1) diperlukan. Buatlah posisi rumah induk beberapa jarak di atas posisi banjir tertinggi, kalau bisa antara 50 cm sampai 1 meter. Misalnya, banjir tertinggi yang pernah terjadi di wilayah itu 1 meter dari jalan, berarti posisi rumah induk harus berada paling tidak 1,5 meter dari jalan. Ini untuk mengantisipasi datangnya banjir yang lebih besar dari yang pernah ada. Ada beberapa cara untuk mewujudkannya:

a. Membuat Rumah Panggung. Dengan mengangkat ketinggian lantai dan membiarkan ruang dibawahnya kosong, seperti rumah-rumah tradisional Indonesia.

b. Mengurug tanah. Mengisi kekosongan ruang dengan tanah urug dengan ketinggian minimal 50 cm dari batas banjir maksimal (misalnya batas banjir 1 m, maka urugan tanah 1,5 m. bila taman yang ada juga ikut diurug, bisa menjadi landscape yang indah dan menjadi satu kesatuan dgn rumah. Urugan bisa dilakukan dengan menggunakan tanah atau puing-puing. Dan setelah diurug tanahnya harus dipadatkan (stamper). Pondasi dibuat sebelum tanah diurug. Setelah dipondasi, dibuat balok pengikat, lalu diurug. Setelah tanah urugan di padatkan, dibuat balok pengikat diatasnya agar bangunan lebih kaku.

c. Meletakkan Rumah induk di lantai atas. Bila ketinggian banjir maksimal 2 m, dan ketinggian lahan untuk halaman menjadi 50cm, maka ketinggian rumah induk minimal menjadi 2,5 m dan selisihnya dengan lahan halaman menjadi 2 m. Selisih Ruang sebesar 2 meter dapat dimanfaatkan menjadi ruang lain, seperti gudang, garasi mobil, ruang pembantu, yang memang tidak bisa digunakan kala banjir besar tiba. Rumah induk menjadi lantai atas, dan untuk mencapainya ada tangga dari halaman depan menuju entrance yang ada di lantai atas.

4. Instalasi Mekanikal dan Elektrikal diletakkan diatas ketinggian banjir. Pipa pembuangan air keluar diletakkan di tempat yang tinggi. Posisi bagian atas septic tank minimal setinggi lahan halaman (50 cm dr jalan), lebih baik bila berada diatas batas banjir (setara tanah urugan), dan bisa di manipulasi sebagai taman. Persiapkan tempat penampungan air yang besar, untuk antisipasi kekurangan air ketika banjir. Penempatan instalasi listrik juga minimal 1 m dari lantai rumah induk. Bila perlu sediakanlah genset untuk cadangan listrik, dan ditempatkan di tempat yg tinggi.

Memiliki rumah yang lebih tinggi dari jalan, selain untuk menghindari masuknya air banjir, bisa terlihat menjadi lebih ‘wah’ karena ketinggiannya itu. Dan bila dipadukan dengan disain arsitektur yg apik, akan menjadi rumah yang menarik.

No Comments »

Jul 06 2008

Posted by admin under Design,Houses

Rumah (Bangunan) Indah Tidak Perlu Mahal

Rumah Indah itu mahal? Ya iyalah…. Kecuali yg jual lg kepepet..

Bangun rumah indah itu mahal? Belum tentu!!

Apa yang membuat rumah terlihat indah?

Disain. Komposisi bentuk, warna, material, dan kualitas dari bangunan itu. Dengan layout yg fungsional dan efektif, rumah menjadi apik.

Lalu apa yang membuat rumah itu menjadi mahal? Pemakaian material yg ‘premium’. Yang dimaksud mahal disini adalah apabila kita bandingkan biaya pembangunan per m2.

Material mahal TIDAK membuat bangunan indah

Ada 2 macam material yg digunakan dalam pembangunan rumah/bangunan. Yang pertama adalah material struktur. Untuk material struktur, percayakan pada ahlinya, orang struktur, arsitek, atau tukang yang ahli. Jangan coba2 mengakali struktur, bila anda buta soal struktur. Bisa fatal boss..

Yang kedua adalah material finishing. Ada kelas2nya. Ada KW1 untuk kualitas 1, KW 2, dan KW 3. Yang termasuk material finishing adalah jenis lantai, cat dinding, plafond, sanitary kamar mandi, jenis atap, penggunaan batu alam, bahan kusen/pintu/jendela, dll. Disinilah yg kita bisa ‘mainkan’.

Lantai KW1 adalah lantai yg pinggirannya cutting, bukan yg ‘pinggul. Penggunaan lantai KW1 meminimalisasi nat (batas antar keramik) lantai, malah bisa menghilangkan. Ini tidak bisa dilakukan bila memakai lantai KW 2 dan 3. Tapi, bukan berarti pemakaian lantai KW 2 dan 3 tidak bisa indah.

Cat dinding yang baik adalah cat yg tidak mengeluarkan kapur ketika digesek dengan kain atau tangan (setelah kering lo di geseknya). Ada dua jenis cat, untuk interior dan eksterior.  Untuk interior bisa dipakai cat apa aja (jangan yg buruk), karena tidak berhadapan langsung dengan cahaya dan cuaca. Warna cat bisa pudar terkena cahaya matahari. Untuk cat eksterior, pakailah cat ‘weather shield’. Warnanya lebih glossy dan harganya lebih mahal.

Jadi, sekali lagi, material mahal TIDAK membuat bangunan indah. Itu akan memperindah disain yg sudah indah, tp tidak membuat disain yg ‘biasa’ menjadi indah. Apalagi kl disain itu benar2 biasa, kesannya akan jadi norak. Jd pikir2 lagi kl mau pakai material premium.. worth or not…

Pilihlah material sesuai kantong

Untuk penggunaan material ‘standard’ di Jakarta, harga per m2 adalah Rp. 2 juta. Bagaimana pun bentuk bangunannya, yang indah dan jelek, harga relatif sama. Bila anda membangun bangunan biasa aja dengan luas 100 m2, dan tetangga anda membangun rumah yg ‘indah’, dengan luas yg sama dan dgn material yg sama, yg standard, maka harga pembangunan akan relative sama, sekitar 200 jutaan… Lalu apa yg membedakannya? Nilai tambahnya… Rumah anda bisa dijual dgn harga sampai 260 jt (gak termasuk tanah), tp tetangga anda bisa sampai 300 jtan (gak termasuk tanah juga).

Jadi, kenapa ga sekalian buat rumah yg indah….

Bagaimana membuat rumah indah?

Ada 2 tahap.. yg pertama, cari disain yg bagus. Tahap kedua, cari kontraktor yg bagus.

Cari disain yg bagus? Ada dua cara juga…

1. Cari rumah yg bagus, trs foto.. atau cari gambar rumah yg bagus di majalah atau buku, trs di scan… trs cari deh kontraktor yg bagus yg bisa niru bangunan itu.. Biaya: biaya foto sama cetak, atau biaya bli majalahnya.. murah kan? Dengan catatan gak ketauan sama owner rumah or arsiteknya, atau sudah dapet restu dari mereka… ATAU, anda akan di tuntut ratusan juta di pengadilan perdata sama mereka. Dan anda akan mendapat bangunan yg HAMPIR mirip dengan bangunan yang anda inginkan.

2. Cari arsitek bagus (susah carinya? Kontak saya aja! ;) ). Biaya: 5-10% dari anggaran bangunan. Anda akan mendapatkan bangunan yang unik, bahkan bisa lebih bagus dari yang anda bayangkan, pemilihan material yang pas, budget dan kontrol bangunan yang terkendali. Dan anda bisa dengan bangga menceritakan kepada kolega anda,’saya punya arsitek…’, atau,’arsitek saya bilang…’

Cari kontraktor yg baik? Mintalah rekomendasi dr rekan anda, lalu lihat hasil2 bangunan yg sudah mereka bangun, dan mintalah testimony dr org2 yg sudah memakai jasa kontraktor itu.
Jadi, kesimpulannya, buat rumah atau bangunan yg indah gak perlu mahal kan?

Salam

No Comments »

_ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _